Tanggal 13 November adalah hari ulang tahun sahabatku, “Dinda”. Dia, terlihat sangat bahagia karena kedua orang tuanya memberinya hadiah yang indah. Begitu juga teman-temannya memberkan banyak hadiah. Sayangnya, di hari ulang tahunnya kali ini aku tidak bisa memberinya apa-apa. Karena keluargaku saat ini sedang kesulitan ekonomi. Aku berharap agar Dinda mengerti akan hal ini. Ternyata Dinda mengerti keadaanku sekarang. Dinda memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
Satu bulan kemudian,
Dinda jatuh sakit. Penyakit yang sangat langka yang pernah ada. Setelah
mempersiapkan kue kesukaan Dinda, aku pun menjenguknya. Sesampai di sana, aku
berbincang-bincang dengan ibunya. Ibunya Dinda berkata, “Penyakit dinda sangat
aneh dan kemungkinan sudah tidak ada harapan untuk hidup lebih lama”. Karena
organ tubuhnya akan rusak secara bertahap dan butuh donor yang cocok untuk
menghentikan kerusakannya.
Bak disambar petir di
siang bolong. Tak terasa air mataku menetes ketika menatap sahabat terbaikku
terbaring lemas di ruang IGD. Aku pun memutuskan untuk mencoba tes untuk
melihat kecocokan ginjalku dengannya. Dan hasil tesnya cocok. Aku pun langsung
pulang ke rumah dan menyampaikan niatku untuk mendonorkan ginjalku kepada
Dinda. Ibuku sangat tidak setuju akan niatan baikku. Ibu tidak mau anaknya
satu-satunya ini harus menanggung rasa sakit selama hidupku kelak. Namun aku
terus memaksa dan memberitahu ibu alasanku ingin mendonorkan ginjalku. Ini akan
menjadi kado ulang tahun selama hidupnya. Dan aku percaya akan janji Tuhan
bahwa setiap kebaikan berhak dibalas dengan kebaikan pula, Apabila aku tidak
mendapatkannya di dunia, maka aku yakin akan mendapatkannya di kehidupanku
selanjutnya.
Setelah mendapat
persetujuan ibu, aku pun langsung ke rumah sakit dan memberitahu ibunya Dinda
akan niatku mendonorkan ginjalku. Ibunya pun langsung memelukku sambil
terisak-isak bahagia. Beliau sangat berterima kasih padaku. Beliau berjanji
akan memberikan apapun yang aku minta. Namun aku hanya meminta satu saja,
Tolong jangan beritahu Dinda kalau aku yang mendonorkan ginjal untuknya. Dan
operasipun berjalan dengan lancar. Dinda sudah mulai sehat. Setelah dirawat
satu bulan, Dinda dinyatakan sehat total. Aku pun sangat bahagia melihat senyum
Dinda. Sejak saat itu ibunya Dinda sangat menyayangi aku.
Sudah hampir 6 bulan
pasca operasi hidupku berjalan dengan normal. Namun akhir-akhir ini aku mulai
merasa kelelahan apabila beraktivitas agak berat. Awalnya aku tidak
menggubrisnya. Namun suatu malam, ketika aku ingin bangun untuk menunaikan
sholat tahajjud, tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan. Seperti tidak ada
tenaga untuk mengangat kakiku. Sejak saat itu aku memakai kursi roda.
Hari demi hari telah berganti, aku sudah mulai beranjak dewasa. Sekarang aku sudah bersama dengan orang yang menyayangiku apa adanya diriku, Dani. Entah berawal darimana kisahku bersama dengannya. Namun kami tidak pernah saling mengungkapkan rasa cinta kami. Semuanya berjalan begitu saja. Sehingga, di mata orang-orang Dani terlihat seperti abangku.
Hari demi hari telah berganti, aku sudah mulai beranjak dewasa. Sekarang aku sudah bersama dengan orang yang menyayangiku apa adanya diriku, Dani. Entah berawal darimana kisahku bersama dengannya. Namun kami tidak pernah saling mengungkapkan rasa cinta kami. Semuanya berjalan begitu saja. Sehingga, di mata orang-orang Dani terlihat seperti abangku.
Suatu hari Dinda
datang menjengukku di rumah. Dinda membawakan buah apel kesukaanku. Setelah
bercanda tawa, Dinda mengatakan bahwa dia sangat tertarik dengan Dani. Dinda
hanya mengetahui Dani adalah sahabatku, sekaligus abangku. Dinda meminta
bantuanku untuk menjadikan Dani sebagai pacarnya. Sungguh, sakit hati ini
mendengarnya, ingin rasanya aku berterus terang pada Dinda bahwa Dani adalah
orang yang sangat aku cintai. Namun aku tidak ingin membuat hatinya sakit.
Akhirnya aku iyakan keinginan Dinda.
Aku berbicara dengan
Dani tentang Dinda, aku ingin dia bersama Dinda. Awalnya Dani menolak
permintaanku. Namun aku memaksanya. Sampai akhirnya Dani pun luluh dan
mengiyakan kemauanku. Sungguh sakit rasanya hati ini, sungguh. Namun itulah aku
yang lebih memilih mencintai dalam diam. Yang lebih memilih berkorban untuk
orang-orang yang aku sayangi. Aku lebih memilih menahan egoku untuk mereka,
terlebih untuk sahabatku, Dinda. Biar ku tulis semua kisah hidupku di diary
ini, agar kelak orang yang menyayangiku mengerti betapa aku sangat menyayangi
mereka.
Waktu terus berjalan,
aku habiskan sisa hidupku bersama-sama dengan orang-orang yang aku sayangi.
Aku, Dinda, dan Dani sering sekali berjalan bersama. Melihat kemesraan mereka
aku sangat bahagia. Yaa aku sangat bahagia bercampur pilu.
Satu tahun berselang,
kesehatan Anna semakin memburuk. Dan tepat di hari kamis, 24 April 2014, Anna
menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggal, Anna menitipkan diary nya
agar diberikan kepada Dinda. Dinda menangis tersendu-sendu membacanya, air
matanya tak dapat ia tahan. Dinda begitu sangat menyesali sikapnya selama ini
terhadap Anna. Dinda tidak menyadari akan pengorbanan Anna untuknya. Satu pesan
yang Anna berikan untuk dinda, “Jaga Dani untukku, Dinda manis. Terus bahagia yaa
sahabat terbaikku”…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar